Header Ads

Header ADS

BREAKING NEWS :
Loading...

Peranan Guru Di Era Baru (1) : Pengembangan Tiga Kecerdasan


Oleh Sri Endang Susetiawati

Saat ini kehadiran guru tidak saja dihadapkan pada masalah internal guru, namun sekaligus pula dihadapkan pada tantangan eksternal guru yang kian bertambah berat dan rumit. Pada waktu sebelumnya, guru lebih banyak hanya berkutat pada masalah dirinya, antara lain kurangnya kualifikasi dan kompetensi guru, dan kurangnya tingkat kesejahteraan guru. Dulu, guru masih lebih banyak berkutat pada masalah rendahnya etos kerja dan komitmen guru, serta kurangnya penghargaan masyarakat terhadap profesi guru.

Saat ini, guru pun harus menghadapi sejumlah masalah di luar dirinya, antara lain masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, seperti masalah krisis etika dan moral bangsa, masalah korupsi, masalah kemiskinan, dan masalah aksi kekerasan atau tawuran pelajar. Guru pun dihadapkan pada  masalah global yang menuntut tingkat persaingan ekonomi antar bangsa yang lebih tinggi, masalah demokrasi, hak asasi manusia, isu lingkungan hidup, dan lain-lain. Singkatnya, di era baru guru pun dituntut harus lebih peka terhadap sistuasi yang berkembang di luar dunia pendidikan, baik yang menyangkut masalah bangsa maupun masalah global.[1]
Berkenaan dengan adanya sejumlah masalah yang dihadapi oleh guru sebagai bagian dari tantangan dan tuntutan bagi dirinya, maka peran guru telah mengalami perubahan pula. Saat ini dan ke depan, peranan guru harus diarahkan pada pengembangan ketiga jenis inteligensi atau kecerdasan anak didik sekaligus. Yakni, kecerdasan intelektual (intellectual quotient), kecerdasan emosional (emotional quotient) dan kecerdasan moral atau spiritual (spiritual quotient).
Perlu digaris bawahi, bahwa keunggulan seseorang dalam hal kecerdasan tidak semata dalam pengertian kecerdasan akademik atau kecerdasan intelektual ((intellectual quotient)[2]. Kecerdasan intelektual terdiri atas kecerdasan linguistik dan kecerdasan logis matematis. Kecerdasan linguistik mencakup aspek-aspek kemampuan dalam berbicara, membaca dan menulis, sedangkan  kecerdasan logis matematis, mencakup aspek-aspek kemampuan dalam logika, matematika dan sains.
Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Inteligence (1996) mengatakan bahwa kontribusi IQ (Intellectual Quotient) dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang maksimal sekitar 20 persen, sedangkan sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain, yang termasuk dalam wilayah kecerdasan emosional (EQ).[3] Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam bukunya The Learning Revolution (1994), menyebut sejumlah kecerdasan lain yang dimiliki oleh manusia, di luar kecerdasan akademik atau kecerdasan intelektual, yang kesemuanya tergolong dalam kecerdasan emosional (emotional quotient).[4] Kecerdasan tersebut, antara lain adalah sebagai berikut:
1). Kecerdasan musikal, seperti pada komposer, konduktor dan musisi terkenal.
2). Kecerdasan spasial dan visual, seperti pada arsitek, pematung, pelukis, navigator dan pilot;
3). Kecerdasan kinestetik, seperti pada atlet, penari, pesenam dan ahli bedah;
4). Kecerdasan interpersonal, seperti pada penjual, motivator dan negositor;.
5) Kecerdasan intrapersonal, yang bersifat introspektif, sehingga melahirkan intuisi yang luar biasa.
Sementara itu, kecerdasan spiritual (spiritual quotient) merupakan jenis kecerdasan paling akhir yang dikembangkan oleh sejumlah tokoh pendidik yang bersumber pada ajaran-ajaran agama. Dalam hal ini, kecerdasan spiritual diperoleh seseorang terkait dengan hubungan yang dibangun dengan Tuhan. 
Hubungan yang baik dengan Tuhan akan menghasilkan tingkat kecerdasan spiritual yang lebih baik, sehingga mampu menuntun dan mengendalikan seseorang dalam menghadapi sejumlah masalah atau tantangan yang sangat berat sekalipun. Bahkan, kecerdasan spiritual seringkali dipahami sebagai bentuk kecerdasan yang melampaui kemampuan dari jenis kecerdasan lainnya, yang dianggap sebagai pengetahuan manusia pada umumnya.[5] *** By Srie

(Bersambung......)




[1] Indra Djati Sidi, 2002, Menuju Masyarakat Belajar, hal. 38.
[2] Ibid, hal 4.
[3] Ibid
[4] Ibid, hal. 5-6.
[5] Lihat Ary Gunanjar Agustian, 2005, Emotional Spiritual Quotient (ESQ).

Tidak ada komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).

Diberdayakan oleh Blogger.